Sugih tanpa banda, Digdaya tanpa aji,
Nglurug tanpa bala, Menang tanpa ngasorake,
Trimah miwah pasrah, suwung pamrih,
Tebih ajrih langgeng tan ono susah,
Tan ono bungah
Anteng manteng, sugeng Jeneng,
Durung menang yen durung wani kalah,
Durung tunggul yen durung wani asor,
Durung gede yen durung wani cilik.
Artinya:
Kaya tanpa harta, Sakti tanpa ajimat,
Menyerbu tanpa pasukan, Menang tanpa merendahkan,
Menerima dengan pasrah, Sepi dari rasa pamrih,
Jauh dari rasa takut, Selamanya tiada perasaan susah,
Tiada perasaan gembira
Tenang dalam menghadapi sesuatu,
Belum menang bila belum berani menghadapi kalah,
Belum unggul bila belum berani rendah,
Belum menjadi besar bila belum berani menjadi kecil.
_____________________
Ajaran hidup bahagia dari Raden Mas Panji Sosrokartono (1877-1952)
Saudara kandung RA Kartini
Biografi Raden Mas Panji Sosrokartono:
Beliau merupakan intelektual yang disegani di Eropa di tahun 1900-an. Ia kerap dipanggil dengan sebutan De Javanese Prins Pangeran dari Tanah Jawa atau si jenius dari Timur.
Sosrokartono merupakan seorang poliglot, atau ahli dalam banyak bahasa. Ia menguasai 24 bahasa asing dan 10 bahasa suku di Nusantara. Kemampuan berbahasanya ini ditunjang oleh pendidikannya di jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur di Leiden. Ia merupakan mahasiswa pertama asal Nusantara.
Saat Perang Dunia I, ia menjadi wartawan dari the New York Herald Tribune, dengan gaji 1250 Dollar, yang bisa dikatakan cukup mewah untuk ukuran saat itu.
Setelah berkelana di Eropa selama 29 tahun, ia pulang ke Jawa, ikut dalam gerakan kebangkitan nasional bersama Soekarno, bahkan dianggap sebagai guru Proklamator ini.
Rasa nasionalismenya dapat dilacak dalam pidato berjudul Het Nederlandsch in Indie (Bahasa Belanda di Indonesia), pada sebuah konferensi di Nederland, Kartono antara lain mengungkapkan
“Dengan tegas saya menyatakan diri saya sebagai musuh dari siapa pun yang akan membikin kita (Hindia Belanda) menjadi bangsa Eropa atau setengah Eropa dan akan menginjak-injak tradisi serta adat kebiasaan kita yang luhur lagi suci. Selama matahari dan rembulan bersinar, mereka akan saya tantang!”
Setelah kembali ke Jawa, ia banyak menjalani tirakat, berpuasa dan tidak tidur selama berhari-hari, biasanya sampai 40 hari lebih. Dengan kemampuan spiritualnya, ia membuka rumah pengobatan di Bandung, hanya dengan air putih, dan rajah bertuliskan alif, banyak orang disembuhkan dari penyakit yang tak dapat disembuhkan oleh para dokter.
Pada hari Jum'at Pahing, 8 Februari 1952 di rumah Jl Pungkur No 19 Bandung, Sosrokartono kembali ke Sang Pencipta dengan tenang, tentram tanpa meninggalkan istri dan anak. Ia dimakamkan di Sedo Mukti, Desa Kaliputu, Kudus, Jawa Tengah. Di sebelah kiri makam Kartono terdapat makam ibunya Nyai Ngasirah dan bapaknya RMA Sosroningrat.
Salah satu prinsip yang dipegang teguh, dan dipahat di nisannya adalah sugih tanpa banda / digdaya tanpa aji /nglurug tanpa bala /menang tanpa ngasorake” (kaya tanpa harta/ sakti tanpa azimat/ menyerbu tanpa pasukan/ menang tanpa merendahkan yang dikalahkan)
Di nisan sebelah kanan tercantum kalimat Trimah mawi pasrah (rela menyerah terhadap keadaan yang telah terjadi), suwung pamrih tebih ajrih (jika tak berniat jahat, tidak perlu takut), langgeng tan ana susah tan ana bungah (tetap tenang, tidak kenal duka maupun suka), anteng manteng sugeng jeneng (diam sungguh-sungguh, maka akan selamat sentosa)
Nglurug tanpa bala, Menang tanpa ngasorake,
Trimah miwah pasrah, suwung pamrih,
Tebih ajrih langgeng tan ono susah,
Tan ono bungah
Anteng manteng, sugeng Jeneng,
Durung menang yen durung wani kalah,
Durung tunggul yen durung wani asor,
Durung gede yen durung wani cilik.
Artinya:
Kaya tanpa harta, Sakti tanpa ajimat,
Menyerbu tanpa pasukan, Menang tanpa merendahkan,
Menerima dengan pasrah, Sepi dari rasa pamrih,
Jauh dari rasa takut, Selamanya tiada perasaan susah,
Tiada perasaan gembira
Tenang dalam menghadapi sesuatu,
Belum menang bila belum berani menghadapi kalah,
Belum unggul bila belum berani rendah,
Belum menjadi besar bila belum berani menjadi kecil.
_____________________
Ajaran hidup bahagia dari Raden Mas Panji Sosrokartono (1877-1952)
Saudara kandung RA Kartini
Biografi Raden Mas Panji Sosrokartono:
Beliau merupakan intelektual yang disegani di Eropa di tahun 1900-an. Ia kerap dipanggil dengan sebutan De Javanese Prins Pangeran dari Tanah Jawa atau si jenius dari Timur.
Sosrokartono merupakan seorang poliglot, atau ahli dalam banyak bahasa. Ia menguasai 24 bahasa asing dan 10 bahasa suku di Nusantara. Kemampuan berbahasanya ini ditunjang oleh pendidikannya di jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur di Leiden. Ia merupakan mahasiswa pertama asal Nusantara.
Saat Perang Dunia I, ia menjadi wartawan dari the New York Herald Tribune, dengan gaji 1250 Dollar, yang bisa dikatakan cukup mewah untuk ukuran saat itu.
Setelah berkelana di Eropa selama 29 tahun, ia pulang ke Jawa, ikut dalam gerakan kebangkitan nasional bersama Soekarno, bahkan dianggap sebagai guru Proklamator ini.
Rasa nasionalismenya dapat dilacak dalam pidato berjudul Het Nederlandsch in Indie (Bahasa Belanda di Indonesia), pada sebuah konferensi di Nederland, Kartono antara lain mengungkapkan
“Dengan tegas saya menyatakan diri saya sebagai musuh dari siapa pun yang akan membikin kita (Hindia Belanda) menjadi bangsa Eropa atau setengah Eropa dan akan menginjak-injak tradisi serta adat kebiasaan kita yang luhur lagi suci. Selama matahari dan rembulan bersinar, mereka akan saya tantang!”
Setelah kembali ke Jawa, ia banyak menjalani tirakat, berpuasa dan tidak tidur selama berhari-hari, biasanya sampai 40 hari lebih. Dengan kemampuan spiritualnya, ia membuka rumah pengobatan di Bandung, hanya dengan air putih, dan rajah bertuliskan alif, banyak orang disembuhkan dari penyakit yang tak dapat disembuhkan oleh para dokter.
Pada hari Jum'at Pahing, 8 Februari 1952 di rumah Jl Pungkur No 19 Bandung, Sosrokartono kembali ke Sang Pencipta dengan tenang, tentram tanpa meninggalkan istri dan anak. Ia dimakamkan di Sedo Mukti, Desa Kaliputu, Kudus, Jawa Tengah. Di sebelah kiri makam Kartono terdapat makam ibunya Nyai Ngasirah dan bapaknya RMA Sosroningrat.
Salah satu prinsip yang dipegang teguh, dan dipahat di nisannya adalah sugih tanpa banda / digdaya tanpa aji /nglurug tanpa bala /menang tanpa ngasorake” (kaya tanpa harta/ sakti tanpa azimat/ menyerbu tanpa pasukan/ menang tanpa merendahkan yang dikalahkan)
Di nisan sebelah kanan tercantum kalimat Trimah mawi pasrah (rela menyerah terhadap keadaan yang telah terjadi), suwung pamrih tebih ajrih (jika tak berniat jahat, tidak perlu takut), langgeng tan ana susah tan ana bungah (tetap tenang, tidak kenal duka maupun suka), anteng manteng sugeng jeneng (diam sungguh-sungguh, maka akan selamat sentosa)
0 komentar:
Posting Komentar